Sistem cerdas berbasis kecerdasan buatan untuk mendiagnosa penyakit yang dipicu perubahan iklim, polusi udara, dan cuaca ekstrem. Didukung standar internasional WHO, EPA, dan EU.
12 kategori penyakit utama yang terbukti meningkat akibat perubahan iklim, polusi udara, gelombang panas, dan cuaca ekstrem.
Polutan PM2.5 dan PM10 merusak lapisan mukosa saluran napas, menurunkan imunitas lokal, dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi virus dan bakteri.
Paparan NO₂ dan PM2.5 jangka panjang menyebabkan peradangan pembuluh darah, aterosklerosis dipercepat, dan peningkatan risiko serangan jantung saat kualitas udara buruk.
Suhu lebih tinggi memperpendek siklus hidup nyamuk Aedes aegypti dan mempercepat replikasi virus dengue. Curah hujan tidak merata menciptakan genangan breeding site.
Ozon troposfer (O₃) dan serbuk sari yang meningkat akibat musim lebih panjang memicu hiperresponsivitas bronkus. Serangan akut meningkat 40% saat episode polusi.
Gelombang panas urban heat island menyebabkan kegagalan termoregulasi. Suhu inti tubuh > 40°C menyebabkan kerusakan organ multisistem dan kematian jika tidak ditangani.
Banjir ekstrem akibat perubahan pola curah hujan meningkatkan paparan air terkontaminasi bakteri Leptospira dari urin tikus. Risiko meningkat signifikan pasca banjir.
Perubahan suhu mempercepat pertumbuhan patogen air seperti Vibrio, E.coli, dan Salmonella. Banjir mengkontaminasi sumber air minum dan memutus rantai sanitasi.
CO₂ lebih tinggi memperpanjang musim berbunga dan meningkatkan produksi serbuk sari hingga 200%. Ozon meningkatkan alergenisitas protein serbuk sari secara kimiawi.
Paparan kronis PM2.5, SO₂, dan asap biomassa menyebabkan inflamasi permanen saluran napas. Perokok pasif kini termasuk korban polusi udara luar ruangan.
Perubahan distribusi curah hujan dan suhu memperluas habitat nyamuk Anopheles ke wilayah dataran tinggi yang sebelumnya terlalu dingin. Musim penularan kini lebih panjang.
Partikel ultrafine (PM0.1) menembus sawar darah-otak, menyebabkan neuroinflammasi. Paparan NO₂ meningkatkan kekentalan darah dan risiko trombosis serebral.
WHO mengakui dampak kesehatan mental dari krisis iklim: eco-anxiety, PTSD pasca bencana alam, depresi displacement, dan gangguan tidur akibat panas ekstrem.
Platform ini menggunakan metode Forward Chaining — inferensi berbasis fakta — untuk mencocokkan gejala pasien dengan pohon keputusan klinis yang telah divalidasi tenaga kesehatan.
Didukung data kualitas udara real-time dan panduan WHO 2021, sistem ini menyesuaikan probabilitas diagnosis berdasarkan kondisi lingkungan setempat.
Pilih gejala yang Anda rasakan untuk mendapat rekomendasi awal. Untuk diagnosa lengkap, gunakan platform sistem pakar kami.
Platform Sistem Pakar Forward Chaining kami dirancang khusus untuk membantu diagnosa penyakit terkait perubahan iklim berbasis gejala klinis dan data lingkungan.